Mengembalikan Yang Terbuang
Sebuah Renungan tentang Daur Ulang dan Harapan yang Terkoyak
“Kami tak butuh kantor steril,
Tak butuh cahaya lampu neon yang membius otak.”
Dulu kita membangun katedral untuk jiwa. Sekarang kita membangun kotak-kotak kecil untuk mesin. Arsitektur biofilik—usaha terakhir dan penuh harap untuk menyelipkan pohon ke celah-celah beton—muncul sebagai surat permintaan maaf umat manusia kepada alam.
“Maaf sudah menebangmu,”
katanya, sambil menempelkan taman vertikal di sisi gedung pencakar langit.
Seperti menaruh bunga di kuburan. Tapi jangan tertipu. Dinding hijau tidak menghapus dosa jantung baja.
Di antara air mancur dalam ruang dan atap yang ditumbuhi lumut, ada pemberontakan yang sunyi. Perlawanan akar terhadap ruang rapat. Ini bukan sekadar estetika atau soal kesehatan. Ini adalah bentuk perlawanan—penolakan untuk membiarkan jiwa manusia terkubur dalam eternit.
Mereka bilang, desain biofilik bikin kerja makin produktif.
Tentu saja mereka bilang begitu. Produktivitas—dewa baru di kuil-kuil beton kita. Padahal, cinta pada alam bukan soal membuat pekerja jadi lebih efisien. Tapi tentang mengingat bahwa kita adalah makhluk hidup, bukan mesin yang tidur di dalam kotak ber-AC sambil bermimpi tentang hutan yang tak pernah kita datangi.
Gerakan ini—tuluskah, atau hanya gincu di wajah penindas?
Kita merangkul alam… atau hanya mendekorasi penjara kita dengan daun-daun plastik? Untuk para arsitek yang membaca ini:
“Jangan bangun Tembok yang baru. Bangunlah reruntuhan yang bernapas.
Bangun ruang di mana manusia bisa duduk, tanpa alas kaki, tanpa takut, di bawah langit yang bukan proyeksi digital. Biarkan tanaman liar menyelimuti struktur. Biarkan angin berbicara di ruang rapat. Biarkan alam kembali ikut memutuskan.”
Karena pada akhirnya,cbukan cuma bangunannya yang harus runtuh. Tapi juga ide bahwa kita pernah terpisah dari alam.
Tulis, kirim & share berita / artikelmu dimana-pun, kapan-pun, berapa-pun di Kalacemeti Archive.
Sebuah Renungan tentang Daur Ulang dan Harapan yang Terkoyak
Energi Terbarukan Dominan: Karena Bumi Bukan Mainan Sekali Pakai
Tembok Kaca & Langit-langit yang Ditumbuhi Hutan: Arsitektur Biofilik di Era Keterasingan